‘’Hei! Ayo bermain kartu! Aku bawa edisi terbaru nih!’’
Teriakan pertama.
‘’Eh, sepertinya seru, tuh! Ayo! Ayo!’’
Teriakan kedua.
‘’Baiklah! Siapa yang mau ikut?!’’
Teriakan ketiga.
‘’Aku! Aku!’’
Teriakan keempat. Maka bisa ditebak teriakan selanjutnya
adalah—
‘’Hei! Chi! Mau ikut tidak?!’’
Teriakan kelima sudah terdengar, maka bisa dipastikan kalau
jawaban selanjutnya adalah—
‘’Tidak,’’ Gadis yang dipanggil ‘’Chi’’ itu mendengus. Hei,
namanya bukan Yukachi!. Berapa kali ia harus memperingatkan teman-temannya?.
Yukari Sazekawa kembali memfokuskan pandangannya ke arah
novel yang sedari tadi dibacanya. Iris hitam setajam tatapan elang miliknya
menelusuri setiap baris yang tercetak di atas kertas novel yang baru dibelinya
kemarin itu. Acuh tak acuh. Tak peduli tatapan mencibir dari teman-teman yang sedari tadi tidak ia
hiraukan. Bukannya ia tidak peduli, ia hanya malas, itu saja. Bermain kartu
terasa lebih membosankan ketimbang belajar Matematika seharian bagi Yukari. Ia lebih memilih menghabiskan
waktu luang di tengah kesibukannya sebagai seorang pelajar pindahan dari Jepang
yang baru pindah satu tahun yang lalu dengan membaca novel atau komik. Selama
itu ia bersekolah di Indonesia, selama itu pula ia sendiri.
Tiga puluh satu juta seratus empat ribu detik. Sendirian.
Sebenarnya bukan salah teman-temannya ataupun dirinya yang
sampai sekarang belum mendapat pasangan yang cocok dengan dirinya. Salahkan
ayah dan ibunya yang telah menurunkan gen sifat kaku padanya. Yukari memang
sendiri, tetapi bukan berarti teman-temannya membencinya, mereka hanya enggan
untuk berlama-lama bersama Yukari. Mereka bilang Yukari terlalu individual,
egois. Sampai sekarang pun Yukari masih merasa heran dengan pernyataan itu. Memangnya
siapa yang egois? Merekalah yang egois, memaksakan kehendak pada orang lain.
Yukari menghela napas lelah, ia menutup novel yang berada
dalam genggamannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah jendela di sebelahnya.
Menopang dagu sembari menikmati semilir angin yang berhembus nakal menerobos
sela-sela jendela yang dibuka. Memejamkan matanya perlahan, lalu membukanya
kembali seraya menatap hamparan hijau pegunungan di kejauhan. Yukari memutuskan
untuk meraih buku tulis kesayangannya dari dalam tas. Buku yang menjadi curahan
ide-ide liar yang bermunculan ataupun luapan rasa hatinya. Ia menorehkan
pensilnya membentuk arsiran yang tak jelas rupanya.
Bosan.
Satu kata yang tepat untuk mendefinisikan apa yang dirasakan
Yukari saat ini. Duduk sendiri di
bangkumu saat istirahat berlangsung tanpa seorang teman untuk berbicara dan
bercanda tentu menjadi hal yang bisa dibilang sangat membosankan. Yukari mengakui itu. Ia ingin memiliki
seorang teman yang akan menjadi pasangan di kelasnya. Seperti teman-temannya
yang lain. Yukari juga seorang gadis normal yang butuh tempat untuk bercerita
di sekolah. Salahkan sifat kakunya yang selalu menghambat dirinya untuk sekadar
tersenyum atau berbicara panjang lebar kepada orang lain yang belum terlalu
dekat dengannya.
Yukari memilin rambut hitam sepunggung miliknya perlahan.
Tidak ada ide yang melintas saat ini. Mood menulisnya juga sedang turun, tidak
ada yang bisa ditulis di buku kesayangannya. Yukari meletakkan kepalanya di
atas meja dengan bantalan kedua tangannya yang terlipat. Bibirnya mengerucut
sebal. Diperhatikannya keadaan kelas yang—memang selalu—kacau balau ketika
memasuki jam istirahat. Bagian barat kelasnya akan berubah menjadi game center
karena ulah anak laki-laki, sementara bagian timur akan berubah menjadi pasar yang
hiruk pikuk dengan teriakan dan gurauan anak-anak perempuan di kelasnya.
Bisakah kau bayangkan itu?. Suatu kelas di siang yang panas dengan bising musik
game yang meraung keras ditambah teriakan dan tawa yang mengguncang kaca
jendela dengan posisimu di antara keduanya. Keadaan yang benar-benar hebat dan
menakjubkan. Cocok untuk orang yang sedang stress berat memikirkan tugas yang
kian hari kian menumpuk.
Yukari kembali mendesah. Ia jadi merasa terasing, seperti
obat nyamuk yang diletakkan di sudut ruangan pada malam hari lalu terinjak
sampai patah pada pagi harinya. Kedua manik kelamnya bergulir tak tentu arah.
Saat itulah ia menangkap sesosok gadis yang sama seperti dirinya. Duduk manis
di atas bangku di tengah dua kubu yang saling berseteru. Blok barat anak
laki-laki dan blok timur anak perempuan, seperti ‘Perang Dunia Kedua’ sedang
berlangsung di dalam kelasnya.
Gadis berambut hitam sebahu itu duduk dengan tenang—atau
cuek—di bangkunya tanpa terganggu sedikitpun. Matanya terpaku pada gadget putih yang ada di dalam genggaman
tangannya. Alisnya tampak berkerut, bertautan. Tampaknya ia serius menghadapi
–entah-apa-itu-yang ada pada gadget
miliknya. Sesekali ia tersenyum, lalu cemberut, meracau tidak jelas, lalu
melompat senang sembari bergumam ‘’Yessss!’’ atau ‘’Hore!!!’’.
Merasa penasaran, akhirnya Yukari memutuskan untuk bangkit
dari tempatnya, berjalan mendekati gadis yang diketahui bernama Jehan itu.
Yukari menepuk bahunya perlahan. Jehan menekan tombol pause lalu menolehkan kepalanya. Gadis itu tampak menatap aneh
sebelum pada akhirnya tersenyum.
‘’Oh hei, kau Yukari, kan?’’ Jehan kembali memusatkan
perhatiannya kepada layar benda berbentuk kotak berwarna putih di depannya.
‘’Ada yang bisa kubantu?’’ Ia berkata singkat seraya menatap lurus-lurus
permainan yang sedang ia mainkan.
‘’Aku hanya bosan saja, tak masalah kan kalau aku duduk di
sebelahmu?’’ Yukari mendudukkan dirinya pada bangku kosong di sebelah Jehan.
Yukari memperhatika Jehan dalam diam. Sejujurnya, ia merasa
nyaman dengan anak itu semenjak ia pertama kali berbicara. Tidak
berbelit-belit, singkat, dan padat. Jehan senang dengan ketenangan dan
kesendirian untuk menghabiskan waktu luangnya, sama seperti dirinya. Merupakan
suatu hal yang langka bagi anak-anak sekelas Yukari untuk bisa melihat Jehan
ada di antara gerombolan anak-anak perempuan di blok timur. Yang Yukari ingat,
terakhir kali Jehan melakukannya, gadis berwajah polo situ menjadi kacang yang
terbengkalai di belakang lingkaran anak-anak gadis yang menggerombol. Jehan
menguap bosan lalu kembali lagi ke tempat duduknya.
‘’Kau sedang main apa?’’ Yukari memulai pembicaraan.
‘’Sedikit lagi aku menang,’’ Jawaban yang nggak nyambung, itulah hal pertama yang
ada di dalam pikiran Yukari.
‘’Oh yeah!’’ Jehan tiba-tiba memekik keras sembari melempar
kepalan tangannya ke atas. Tidak jelas adalah hal kedua yang muncul di kepala
Yukari.
Iseng-iseng, Yukari mengintip apa yang sedang digeluti Jehan
dari balik bahu gadis itu. Seketika itu juga Yukari ikut memekik senang
menyemangati Jehan yang sontak membuat kedua kubu yang saling berseteru di
dalam kelas itu hening untuk sesaat. Sama sepertiku adalah hal ketiga yang
muncul dalam pemikiran Yukari soal Jehan. Yukari tak pernah menyangka ada gadis
lain selain dirinya yang menyukai komik atau anime yang berbau adventure atau pertarungan. Hal lain yang membuatnya malas untuk bergabung dengan
kubu timur adalah, gadis-gadis di kelasnya lebih menyukai komik perempuan yang
biasanya berbau cinta. Sesuatu yang menurut Yukari tidak ada serunya untuk
dipikirkan dalam masa remajanya.
‘’Kamu tahu? Aku lebih merasa nyaman berada di dekatmu,’’
Yukari bergumam pelan.
Jehan tidak mengalihkan pandangannya dari permainannya.
‘’Kupikir juga begitu, aku merasa cocok denganmu,’’ Ia menjawab.
Yukari tersenyum kecil. Jehan berbeda dengan gadis
sekelasnya, tetapi sam dengan dirinya. Sama-sama dianggap egois, cuek, lebih
senang menyendiri, cinta kesunyian—meski kelas ini tak akan pernah sunyi,
sama-sama berubah menjadi gila kalau sudah berurusan dengan anime kesukaan,
sering tertawa sendiri mendengar cerita masing-masing, melakukan hal konyol,
lebih senang diam, wajah flat, dqan
entah apalagi yang bisa dipikirkan Yukari saat ini.
Yukari tersenyum manis untuk pertama kalinya.
‘’Kurasa kita cocok, kita sama dan senasib,’’ celetuk Jehan
yang memasukkan gadget putih
kesayangannya ke dalam saku.
‘’Kurasa kita bisa berteman?’’ Yukari bergumam ragu.
Jehan mengulurkan jari kelingkingnya ke depan wajah Yukari.
‘’Itu ide yang bagus. Kita bisa jadi pasangan teman yan$g
asyik,’’ Ia menambahkan.
Senyum Yukari bertambah lebar, dikaitkannya jari
kelingkingnya dengan jari kelingking Jehan.
‘’Aku pernah dengar kalau orang itu seperti magnet.Orang
dengan kepribadian berbeda akan saling menarik, seperti kutub selatan dan utara
magnet. Sedangkan orang dengan kepribadian sama akan susah untuk bersatu,
seperti dua kutub sejenis yang didekatkan. Tapi bagiku itu tak berlaku. Karena
kalaupun kita adalah kutub magnet yang sejenis, kita akan tetap bersatu, karena
kita telah terikat tali persahabatan yang tak akan pernah putus!’’
Yukari dan Jehan tertawa bersama. Dua gadis remaja itu telah
menemukan seorang sahabat yang akan menemani dirinya setelah ini. Melewati
‘Perang Dunia Kedua’ yang tengah berlangsung di kelasnya tanpa rasa peduli
sedikitpun. Menjalani dunia yang mereka bangun sendiri. Itu sifat mereka, kan?.
Setidaknya, begitulah.
Kau tahu? Sahabat itu tidak selalu teman yang telah berteman
lama. Sahabat adalah teman yang selalu ada dan membuatmu merasa nyaman ketika
berada di dekatnya.