Kamis, 19 Desember 2013

HILANG



                Melirik kemanapun sama saja. Ke depan, ke belakang, ke kanan, ataupun ke kiri. Berjalan dimanapun, sama saja. Mall, kantor, trotoar, rumah sakit, bahkan sekolah. Kapanpun, dan dimanapun, semua sama saja. Angkutan umum, istirahat di kelas, ataupun di rumah makan. Apapun yang kau lihat sama. Semua sama saja.
                Laptop, tablet, dan handphone.
                Sekarang sangat mudah untuk menemui benda-benda semacam itu disekitarmu. Lalu ketika kau berada di antaranya, kau akan merasakan kalau dunia ini nyaris mati. Kosong dan hampa. Kala dirimu menyapa temanmu, yang kau dapat hanyalah satu; diam. 
                Tak ada yang tahu. Tak ada yang bisa.
                Semuanya menghilang. Tersedot ke dalam euforia teknologi yang makin canggih, seiring berjalannya waktu.
~..:: ::..~
                Andini melangkahkan kakinya menyusuri trotoar tak berujung.  Lantas ketika angkutan umum melintas, dengan sigap ia mencegat, lalu mengangkat kaki-kaki kecilnya untuk naik. Mendudukkan dirinya, menyamankan posisi, lalu mengamati sekitar.
           
             Hening. 
Hening yang berisik.
                Supir pengemudi angkot sibuk dengan telepon. Entahlah apa yang dibicarakan, sepertinya soal pekerjaan. Wanita kantoran disebelahnya sibuk tertawa sendiri. Memperhatikan layar handphonenya dengan serius, lalu mengetikkan pesan balasan dengan cepat. Pelajar di depannya tengah sibuk menggoyangkan kedua tangannya kesana kemari. Lalu sesekali mendecih kesal, dan besorak senang ketika ia berhasil mengalahakan musuh terbesar dalam permainan yang saat ini sedang ia mainkan. Pemuda di ujung bangku-dengan angkuhnya- mengeluarkan tablet dari tasnya, lalu memainkannya dengan volume yang berisik. Sementara seorang mahasiswa di sebelah supir tengah sibuk mendengarkan lagu melalui  earphone yang tersambung dengan handphonenya.
                Andini menghela napas pelan. Selalu seperti ini, memang. Tapi ia tak tahan terus-terusan   berada di dalam situasi semacam ini. Jujur saja, ia merindukan masa-masa dulu, masa kecilnya. Semua orang berbicara, berinteraksi. Tingkat sosial yang tinggi, saling membantu, menyapa, dan berbicara satu sama lain.
                Merasa bosan, Andini memutuskan untuk mengalihkan pandangannya keluar jendela.  Semua juga sama, tak ada yang berbeda.  Pohon-pohon tua yang terlihat rapuh ditengah kebisingan kota, asap dan debu yang menyebar, membaur keseluruh udara, orang-orang yang berlalu lalang, kendaraan yang saling bersaing, berdesing dan menghasilkan polusi, lalu sehelai daun yang terlihat lemah tak berdaya. Dihembus angin, melayang, menari di udara, lalu terhempas begitu saja ke tanah, diinjak dan terasing. Entah kenapa, Andini merasa kasihan pada daun itu. Ia merasakan hal yang sama. Andini merasa memiliki nasib yang sama dengannya.
                Sendirian dan diabaikan. Di tengah bising kesibukan kota.
                Sekarang semua bersikap cuek. Memilih mengikuti ego dan kesenangan masing-masing. Mereka berjalan, tetapi sebenarnya tak berjalan. Mata tetap terfokus pada layar handphone masing-masing. Lalu ketika tak sengaja menabrak seseorang, yang terucap bukan lagi kata maaf. Racauan, cacian, dan makian. Yang pada akhirnya akan berujung pada pertengkaran.
                Mereka berpikir seakan fokus, tetapi pikiran mereka melayang di dalam dunia maya. Dunia bohongan yang bahkan tak bia ditinggali. Mereka mendengar orang berbicara, tetapi sebenarnya tak mendengar. Hanya mengangguk sebagai respon, padahal apa yang dibicarakan hanya sebagai angin lalu. Masuk telinga kanan, lalu keluar telinga kiri.
                Mereka tahu seseorang mamanggilnya, tetapi lagaknya tak tahu, fokus pada permainan yang bahkan tidak lebih penting daripada hal yang akan disampaikan orang lain. Mereka tahu ada yang butuh bantuannya, tetapi memilih untuk tetap diam duduk di tempat, tidak peduli. Mereka seakan berkumpul sebagai satu keluarga, tetapi jiwanya berpencar pada dunia maya masing-masing. Mereka tahu itu salah, tetapi terlanjur terjebak dalam candu dunia maya. Tak ada yang tahu. Tak ada yang bisa.
                Dunia ini telah berubah.
                Andini termasuk dalam segelintir orang yang masih sadar. Terkadang ia tak tahu apa yang harus diperbuat. Berada di tengah kesunyian yang bising membuatnya bingung. Apa yang harus diperbuat?. Haruskah ia marah?. Haruskah menangis?. Atau justru mengkuti apa yang dilakuakn orang-orang disekitarnya?.
                Dipandanginya gadget berwarna putih yang kini ada di genggamannya. Hadiah dari ayah dan ibunya. Andini tak tahu harus senang atau bagaimana, yang jelas ia berterima kasih, itu pasti. Tapi satu yang harus kau tahu, Andini tak pernah berharap memiliki benda ini. Benda yang sudah membuat keluarganya menjadi sunyi. Keharmonisan yang mulai retak, seakan ada jurang yang memisahkan ia dan anggota keluarganya.
                Ia tahu, ibu dan ayahnya sayang padanya. Hanya saja, cara mereka menyampaikan rasa sayang mereka kurang tepat. Orang tua Andini memang sibuk. Bisa dikategorikan sebagai orang tua karir. Ia bersyukur bisa hidup berkecukupan, tetapi tidak dengan dampaknya.
                Selalu ditinggal keluar negeri oleh kedua orang tuanya memang bukan hal yang menyenangkan bagi Andini. Tetapi setidaknya, ia masih punya harapan memiliki teman dirumah, kakaknya. Itulah yang ia harapkan. Menjadi teman sekaligus saudara di rumah ketika orang tuanya sedang bertugas, bercanda, bertukar pikiran, dan saling menopang ketika salah satu diantara mereka sedang rapuh.
                Tapi sekarang, semua harapan itu sudah menjadi mimpi .
                Mimpi bagi seorang pungguk yang merindukan bulan.
                Ayah dan ibunya selalu perhatian, tentu saja. Mereka sering menghubungi Andini melalui pesan singkat, telepon, Skype, media chatting, dan social media lainnya. Andini senang, sekaligus sedih. Walaupun orang tuanya sering menghubungi, ia merasa sepi. Sebab komunikasi diantara ia dan keluarganya terasa tidak berarti. Mereka terpisah oleh jarak ruang dan waktu. Hanya dengan mendengar suara dan melihat wajah mereka tentu tak akan cukup untuk mengobati kerinduannya.
 Kala ia merasa sepi di rumah, yang bisa dilakukan hanya merenung, memandang bukit di keauhan sana. Atau berbicara dan bercerita pada mentari, atau rembulan, angin yang lewat, dan burung-burng yang sering bertengger di jendala kamarnya.
Kakak yang selama ini ia harapkan menjadi teman menghilang sosoknya entah kemana. Ia rindu sosok kakanya yang dulu, ramah, selalu membantunya, mendengar keluh kesahnya, menemaninya dan menyemangati disaat sulit. Itu dulu.
Sekarang, untuk sekedar mengetuk pintu kamar kakaknya saja Andini merasa malas. Sebab yang ia dapat sekarang adalah bentakan dan cacian— ia telah mengganggunya, kata kakaknya. Atau membuatnya kalah dalam permainannya. Bukan sapaan hangat dan ajakan masuk seperti dulu.
Sahabatnya sendiri sekarang juga sudah berubah— menurut Andini— semenjak ia mendapat gadget baru. Andini juga rindu pada sosok sahabatnya yang dulu. Pengertian, selalu tersenyum, dan menanggapi semua panggilan dan perkataannya. Itu juga dulu.
Sekarang yang didapat Andini jauh berbeda. Memanggil sahabatnya saja lama-lama ia merasa malas. Toh, pada akhirnya Andini tak akan mendapat tanggapan. Yang ada sahabatnya yang satu itu masih tetap memelototi layar gadgetnya. Atau—yang lebih parah— mengangguk, lalu berjalan mendahului Andini, masih tetap memandangi layar gadgetnya.
Andini benar-benar bingung sekarang. Apa yang harus dilakukan setelahnya. Apa yang harus ia perbuat untuk menghadapi semua. Dan apa yang akan ia kerjakan untuk mengisi kekosongan hati dan waktunya. Ia tidak tahu, tak kan pernah tahu.
Angkutan umum talah berhenti di depan tempat tujuan Andini. Selesai membayar, gadis berambut hitam sebahu itu kembali melangkahkan kaki nya menyusuri jalan setapak yang akan membawanya ke suatu tempat. Tempat favoritnya.
Kakinya terus bergerak cepat. Sampai seorang laki-laki menabraknya sampai terjatuh. Lantas bukannya mendapat permintaan maaf, yang Andini dengar justru adalah—
                ‘’Kalau jalan liat pakai mata!’’
—cacian. Laki-laki itu mendengus, lalu kembali memasang earphone yang sempat terlepas dari telinganya. Meninggalkan Andini begitu saja.
                Merasa kesal, Andini segera bangkit berdiri, lalu mempercepat langkahnya. Ia ingin segera sampai ke tempat tujuannya.
                Taman.
                Itulah tujuannya. Menyendiri di sana, ditengah hingar-bingar kesibukan kota yang dingin ini.
                Andini mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang, dibawah sebuah pohon rindang yang menaunginya dari sorot mentari yang lumayan menyengat hari ini. Di sebelahnya, duduklah seorang gadis kecil bermata coklat tua. Sorot tatapannya hampir sama dengan Andini.
Kesepian.
                Sejenak hening menyergap. Angin yang berhembus menjadi lagu sendu yang menemani hening, membelai dua gadis yang sedang duduk diam.
                ‘’Menunggu sesorang?’’ gadis di sebelah Andini buka suara.
                Andini menoleh.  Menatap gadis di sebelahnya. Gadis yang kesepian, sama seperti dirinya.
                ‘’Ya, bisa dibilang begitu,’’ Andini mengalihkan pandangannya kearah air mancur di seberang sana. Ia menatap sendu dedaunan yang gugur, menari di sekitarnya.
                Gadis di sebelahnya mengulurkan tangan. Ia tersenyum .
                ‘’Nada,’’
                Andini membalas uluran tangan tersebut. Tersenyum lembut.
                ‘’Andini,’’
                Lalu keduanya kembali terdiam.
                ‘’Kapan orang yang kau tunggu akan datang?’’ Nada kembali memecah keheningan.
                Sayup-sayup Andini bergumam lirih. ‘’Entahlah, mungkin takkan pernah datang,’’
                ‘’Kalau begitu, kau sama denganku,’’ Nada tersenyum kecut.
                ‘’Ya..,’’ Andini menanggapi.
                ‘’Aku menunggu orang dalam kenangan..,’’
                ‘’Ia telah menghilang ditelan kegelapan dunia lain, lalu menghilang dari dunia ini,’’
                ‘’Aku tidak mengenal dirinya yang sekarang,’’ Nada berbisik parau.
                Dari sudut matanya yang mulai berarir, Andini bisa melihat jelas gadis disebelahnya itu juga sedang menahan tangis, sama seperti dirinya.
                ‘’Aku juga sama denganmu. Kita berdua sama,’’ suara Andini bergetar.
                ‘’Aku menunggu keluargaku, kakakku, sahabatku, semuanya..,’’
                ‘’Aku tak tahu kapan mereka akan kembali,’’
                Nada mencengkeram tangan Andini erat.
                ‘’Kuharap kita bisa bertemu lagi, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu,’’
                Andini mengangguk. ‘’Tentu,’’
                ‘’Terima kasih sudah mau mendengarku, aku beruntung bisa bertemu denganmu,’’
                ‘’Sekarang sudah saatnya bagiku untuk mengejar orang yang kutunggu, sebelum kenangan itu benar-benar hilang ditelan malam,’’ Iris cokelat milik Nada berbinar cerah, tapi terbersit kerinduan di dalamnya.
                ‘’Kita akan bertemu lagi nanti, saling berbagi kehangatan di tengah dunia yang membeku ini,’’ ujarnya lagi.
                Nada bangkit berdiri lalu berlari meninggalkan Andini, ia melambaikan tangannya dari kejauhan, sam pai sosoknya ditelan lautan manusia.
                Andini menghela napas, ia beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan taman. Kembali ke rumah. Mengejar orang dalam kenangan, lalu membawanya kembali.
                ‘’Kuharap kita bisa bertemu lagi,’’. Andini tersenyum samar. Lalu melangkahkan kakinya, beriap menghadapi hari esok dan tantanga-tantangan baru yang tengah menanti.

Hei, kau yang disana. Memandang bukit dari jendela. Lalu sembunyikan pedih di dalam mata. Tanganmu menggenggam erat buku bahasa. Menghembuskan nafas perlahan, lalu menariknya kembali.
Kau yang sedang dilanda sedih, yakinlah. Aku ada di sini, menatapmu dari kejauhan.
Yakinlah, kau akan melewatinya, baik-baik saja di sana. Dan yakinlah, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti.
Tataplah mentari, dan kau bisa rasakan kehangatan. Tataplah pelangi, dan kau akan merasakan keindahan, keceriaan warna. Tataplah hutan di atas bukit, dan kau akan mendapat ketenangan. Tataplah langit malam, dan kau rasakan semarak gemerlap bintang. Tataplah lautan, dan kau rasakan kebebasan. Tataplah aku, dan kau akan rasakan keyakinan—bahwa aku selalu ada untukmu—di sini, selamanya.
Sekarang, ada janji yang mengikat. Saksi bisu guguran daun pohon jati yang meranggas. Berjanjilah, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Di sini, Pasti

~*~



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik dan sarannya ya..,