Melirik
kemanapun sama saja. Ke depan, ke belakang, ke kanan, ataupun ke kiri. Berjalan
dimanapun, sama saja. Mall, kantor, trotoar, rumah sakit, bahkan sekolah. Kapanpun,
dan dimanapun, semua sama saja. Angkutan umum, istirahat di kelas, ataupun di
rumah makan. Apapun yang kau lihat sama. Semua sama saja.
Laptop, tablet, dan handphone.
Sekarang
sangat mudah untuk menemui benda-benda semacam itu disekitarmu. Lalu ketika kau
berada di antaranya, kau akan merasakan kalau dunia ini nyaris mati. Kosong dan hampa. Kala dirimu menyapa temanmu, yang
kau dapat hanyalah satu; diam.
Tak ada yang tahu. Tak ada yang bisa.
Semuanya
menghilang. Tersedot ke dalam euforia
teknologi yang makin canggih, seiring berjalannya waktu.
~..:: ::..~
Andini
melangkahkan kakinya menyusuri trotoar tak berujung. Lantas ketika angkutan umum melintas, dengan
sigap ia mencegat, lalu mengangkat kaki-kaki kecilnya untuk naik. Mendudukkan
dirinya, menyamankan posisi, lalu mengamati sekitar.
Hening.
Hening yang berisik.
Supir pengemudi angkot sibuk dengan
telepon. Entahlah apa yang dibicarakan, sepertinya soal pekerjaan. Wanita
kantoran disebelahnya sibuk tertawa sendiri. Memperhatikan layar handphonenya dengan serius, lalu
mengetikkan pesan balasan dengan cepat. Pelajar di depannya tengah sibuk
menggoyangkan kedua tangannya kesana kemari. Lalu sesekali mendecih kesal, dan
besorak senang ketika ia berhasil mengalahakan musuh terbesar dalam permainan
yang saat ini sedang ia mainkan. Pemuda di ujung bangku-dengan angkuhnya-
mengeluarkan tablet dari tasnya, lalu
memainkannya dengan volume yang berisik. Sementara seorang mahasiswa di sebelah
supir tengah sibuk mendengarkan lagu melalui earphone yang tersambung
dengan handphonenya.
Andini
menghela napas pelan. Selalu seperti ini, memang. Tapi ia tak tahan
terus-terusan berada di dalam situasi
semacam ini. Jujur saja, ia merindukan masa-masa dulu, masa kecilnya. Semua
orang berbicara, berinteraksi. Tingkat sosial yang tinggi, saling membantu,
menyapa, dan berbicara satu sama lain.
Merasa
bosan, Andini memutuskan untuk mengalihkan pandangannya keluar jendela. Semua juga sama, tak ada yang berbeda. Pohon-pohon tua yang terlihat rapuh ditengah
kebisingan kota, asap dan debu yang menyebar, membaur keseluruh udara,
orang-orang yang berlalu lalang, kendaraan yang saling bersaing, berdesing dan
menghasilkan polusi, lalu sehelai daun yang terlihat lemah tak berdaya.
Dihembus angin, melayang, menari di udara, lalu terhempas begitu saja ke tanah,
diinjak dan terasing. Entah kenapa, Andini merasa kasihan pada daun itu. Ia
merasakan hal yang sama. Andini merasa memiliki nasib yang sama dengannya.
Sendirian
dan diabaikan. Di tengah bising kesibukan kota.
Sekarang
semua bersikap cuek. Memilih mengikuti ego dan kesenangan masing-masing. Mereka
berjalan, tetapi sebenarnya tak berjalan. Mata tetap terfokus pada layar handphone masing-masing. Lalu ketika tak
sengaja menabrak seseorang, yang terucap bukan lagi kata maaf. Racauan, cacian,
dan makian. Yang pada akhirnya akan berujung pada pertengkaran.
Mereka
berpikir seakan fokus, tetapi pikiran mereka melayang di dalam dunia maya.
Dunia bohongan yang bahkan tak bia ditinggali. Mereka mendengar orang
berbicara, tetapi sebenarnya tak mendengar. Hanya mengangguk sebagai respon,
padahal apa yang dibicarakan hanya sebagai angin lalu. Masuk telinga kanan,
lalu keluar telinga kiri.
Mereka
tahu seseorang mamanggilnya, tetapi lagaknya tak tahu, fokus pada permainan
yang bahkan tidak lebih penting daripada hal yang akan disampaikan orang lain.
Mereka tahu ada yang butuh bantuannya, tetapi memilih untuk tetap diam duduk di
tempat, tidak peduli. Mereka seakan berkumpul sebagai satu keluarga, tetapi
jiwanya berpencar pada dunia maya masing-masing. Mereka tahu itu salah, tetapi
terlanjur terjebak dalam candu dunia maya. Tak ada yang tahu. Tak ada yang
bisa.
Dunia
ini telah berubah.
Andini
termasuk dalam segelintir orang yang masih sadar. Terkadang ia tak tahu apa
yang harus diperbuat. Berada di tengah kesunyian yang bising membuatnya
bingung. Apa yang harus diperbuat?. Haruskah ia marah?. Haruskah menangis?.
Atau justru mengkuti apa yang dilakuakn orang-orang disekitarnya?.
Dipandanginya
gadget berwarna putih yang kini ada di genggamannya. Hadiah dari ayah dan
ibunya. Andini tak tahu harus senang atau bagaimana, yang jelas ia berterima
kasih, itu pasti. Tapi satu yang harus kau tahu, Andini tak pernah berharap
memiliki benda ini. Benda yang sudah membuat keluarganya menjadi sunyi.
Keharmonisan yang mulai retak, seakan ada jurang yang memisahkan ia dan anggota
keluarganya.
Ia
tahu, ibu dan ayahnya sayang padanya. Hanya saja, cara mereka menyampaikan rasa
sayang mereka kurang tepat. Orang tua Andini memang sibuk. Bisa dikategorikan
sebagai orang tua karir. Ia bersyukur bisa hidup berkecukupan, tetapi tidak
dengan dampaknya.
Selalu
ditinggal keluar negeri oleh kedua orang tuanya memang bukan hal yang menyenangkan
bagi Andini. Tetapi setidaknya, ia masih punya harapan memiliki teman dirumah,
kakaknya. Itulah yang ia harapkan. Menjadi teman sekaligus saudara di rumah
ketika orang tuanya sedang bertugas, bercanda, bertukar pikiran, dan saling
menopang ketika salah satu diantara mereka sedang rapuh.
Tapi
sekarang, semua harapan itu sudah menjadi mimpi .
Mimpi
bagi seorang pungguk yang merindukan bulan.
Ayah
dan ibunya selalu perhatian, tentu saja. Mereka sering menghubungi Andini
melalui pesan singkat, telepon, Skype, media
chatting, dan social media lainnya. Andini senang, sekaligus sedih. Walaupun
orang tuanya sering menghubungi, ia merasa sepi. Sebab komunikasi diantara ia
dan keluarganya terasa tidak berarti. Mereka terpisah oleh jarak ruang dan
waktu. Hanya dengan mendengar suara dan melihat wajah mereka tentu tak akan
cukup untuk mengobati kerinduannya.
Kala ia merasa sepi di rumah, yang bisa dilakukan
hanya merenung, memandang bukit di keauhan sana. Atau berbicara dan bercerita
pada mentari, atau rembulan, angin yang lewat, dan burung-burng yang sering
bertengger di jendala kamarnya.
Kakak yang selama ini ia harapkan
menjadi teman menghilang sosoknya entah kemana. Ia rindu sosok kakanya yang
dulu, ramah, selalu membantunya, mendengar keluh kesahnya, menemaninya dan menyemangati disaat sulit. Itu dulu.
Sekarang, untuk sekedar mengetuk
pintu kamar kakaknya saja Andini merasa malas. Sebab yang ia dapat sekarang
adalah bentakan dan cacian— ia telah mengganggunya, kata kakaknya. Atau
membuatnya kalah dalam permainannya. Bukan sapaan hangat dan ajakan masuk
seperti dulu.
Sahabatnya sendiri sekarang juga
sudah berubah— menurut Andini— semenjak ia mendapat gadget baru. Andini juga
rindu pada sosok sahabatnya yang dulu. Pengertian, selalu tersenyum, dan
menanggapi semua panggilan dan perkataannya. Itu juga dulu.
Sekarang yang didapat Andini jauh
berbeda. Memanggil sahabatnya saja lama-lama ia merasa malas. Toh, pada
akhirnya Andini tak akan mendapat tanggapan. Yang ada sahabatnya yang satu itu
masih tetap memelototi layar gadgetnya. Atau—yang lebih parah— mengangguk, lalu
berjalan mendahului Andini, masih tetap memandangi layar gadgetnya.
Andini benar-benar bingung
sekarang. Apa yang harus dilakukan setelahnya. Apa yang harus ia perbuat untuk
menghadapi semua. Dan apa yang akan ia kerjakan untuk mengisi kekosongan hati
dan waktunya. Ia tidak tahu, tak kan pernah tahu.
Angkutan umum talah berhenti di
depan tempat tujuan Andini. Selesai membayar, gadis berambut hitam sebahu itu
kembali melangkahkan kaki nya menyusuri jalan setapak yang akan membawanya ke
suatu tempat. Tempat favoritnya.
Kakinya terus bergerak cepat.
Sampai seorang laki-laki menabraknya sampai terjatuh. Lantas bukannya mendapat
permintaan maaf, yang Andini dengar justru adalah—
‘’Kalau jalan liat pakai mata!’’
‘’Kalau jalan liat pakai mata!’’
—cacian. Laki-laki itu mendengus,
lalu kembali memasang earphone yang
sempat terlepas dari telinganya. Meninggalkan Andini begitu saja.
Merasa
kesal, Andini segera bangkit berdiri, lalu mempercepat langkahnya. Ia ingin
segera sampai ke tempat tujuannya.
Taman.
Itulah
tujuannya. Menyendiri di sana, ditengah hingar-bingar kesibukan kota yang
dingin ini.
Andini
mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang, dibawah sebuah pohon rindang yang
menaunginya dari sorot mentari yang lumayan menyengat hari ini. Di sebelahnya,
duduklah seorang gadis kecil bermata coklat tua. Sorot tatapannya hampir sama
dengan Andini.
Kesepian.
Sejenak
hening menyergap. Angin yang berhembus menjadi lagu sendu yang menemani hening,
membelai dua gadis yang sedang duduk diam.
‘’Menunggu
sesorang?’’ gadis di sebelah Andini buka suara.
Andini
menoleh. Menatap gadis di sebelahnya.
Gadis yang kesepian, sama seperti dirinya.
‘’Ya,
bisa dibilang begitu,’’ Andini mengalihkan pandangannya kearah air mancur di
seberang sana. Ia menatap sendu dedaunan yang gugur, menari di sekitarnya.
Gadis
di sebelahnya mengulurkan tangan. Ia tersenyum .
‘’Nada,’’
Andini
membalas uluran tangan tersebut. Tersenyum lembut.
‘’Andini,’’
Lalu
keduanya kembali terdiam.
‘’Kapan
orang yang kau tunggu akan datang?’’ Nada kembali memecah keheningan.
Sayup-sayup
Andini bergumam lirih. ‘’Entahlah, mungkin takkan pernah datang,’’
‘’Kalau
begitu, kau sama denganku,’’ Nada tersenyum kecut.
‘’Ya..,’’
Andini menanggapi.
‘’Aku
menunggu orang dalam kenangan..,’’
‘’Ia
telah menghilang ditelan kegelapan dunia lain, lalu menghilang dari dunia
ini,’’
‘’Aku
tidak mengenal dirinya yang sekarang,’’ Nada berbisik parau.
Dari
sudut matanya yang mulai berarir, Andini bisa melihat jelas gadis disebelahnya
itu juga sedang menahan tangis, sama seperti dirinya.
‘’Aku
juga sama denganmu. Kita berdua sama,’’ suara Andini bergetar.
‘’Aku
menunggu keluargaku, kakakku, sahabatku, semuanya..,’’
‘’Aku
tak tahu kapan mereka akan kembali,’’
Nada
mencengkeram tangan Andini erat.
‘’Kuharap
kita bisa bertemu lagi, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu,’’
Andini
mengangguk. ‘’Tentu,’’
‘’Terima
kasih sudah mau mendengarku, aku beruntung bisa bertemu denganmu,’’
‘’Sekarang
sudah saatnya bagiku untuk mengejar orang yang kutunggu, sebelum kenangan itu
benar-benar hilang ditelan malam,’’ Iris cokelat milik Nada berbinar cerah,
tapi terbersit kerinduan di dalamnya.
‘’Kita
akan bertemu lagi nanti, saling berbagi kehangatan di tengah dunia yang membeku
ini,’’ ujarnya lagi.
Nada
bangkit berdiri lalu berlari meninggalkan Andini, ia melambaikan tangannya dari
kejauhan, sam pai sosoknya ditelan lautan manusia.
Andini
menghela napas, ia beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan taman.
Kembali ke rumah. Mengejar orang dalam kenangan, lalu membawanya kembali.
‘’Kuharap
kita bisa bertemu lagi,’’. Andini tersenyum samar. Lalu melangkahkan kakinya,
beriap menghadapi hari esok dan tantanga-tantangan baru yang tengah menanti.
Hei, kau yang disana.
Memandang bukit dari jendela. Lalu sembunyikan pedih di dalam mata. Tanganmu
menggenggam erat buku bahasa. Menghembuskan nafas perlahan, lalu menariknya
kembali.
Kau yang sedang
dilanda sedih, yakinlah. Aku ada di sini, menatapmu dari kejauhan.
Yakinlah, kau akan
melewatinya, baik-baik saja di sana. Dan yakinlah, kita akan bertemu lagi suatu
saat nanti.
Tataplah mentari, dan
kau bisa rasakan kehangatan. Tataplah pelangi, dan kau akan merasakan
keindahan, keceriaan warna. Tataplah hutan di atas bukit, dan kau akan mendapat
ketenangan. Tataplah langit malam, dan kau rasakan semarak gemerlap bintang.
Tataplah lautan, dan kau rasakan kebebasan. Tataplah aku, dan kau akan rasakan
keyakinan—bahwa aku selalu ada untukmu—di sini, selamanya.
Sekarang, ada janji
yang mengikat. Saksi bisu guguran daun pohon jati yang meranggas. Berjanjilah,
kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Di sini, Pasti
~*~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik dan sarannya ya..,