Kamis, 19 Desember 2013

SI NOVEL DAN NONA GADGET




‘’Hei! Ayo bermain kartu! Aku bawa edisi terbaru nih!’’
Teriakan pertama.
‘’Eh, sepertinya seru, tuh! Ayo! Ayo!’’
Teriakan kedua.
‘’Baiklah! Siapa yang mau ikut?!’’
Teriakan ketiga.
‘’Aku! Aku!’’
Teriakan keempat. Maka bisa ditebak teriakan selanjutnya adalah—
‘’Hei! Chi! Mau ikut tidak?!’’
Teriakan kelima sudah terdengar, maka bisa dipastikan kalau jawaban selanjutnya adalah—
‘’Tidak,’’ Gadis yang dipanggil ‘’Chi’’ itu mendengus. Hei, namanya bukan Yukachi!. Berapa kali ia harus memperingatkan teman-temannya?.
Yukari Sazekawa kembali memfokuskan pandangannya ke arah novel yang sedari tadi dibacanya. Iris hitam setajam tatapan elang miliknya menelusuri setiap baris yang tercetak di atas kertas novel yang baru dibelinya kemarin itu. Acuh tak acuh. Tak peduli tatapan mencibir  dari teman-teman yang sedari tadi tidak ia hiraukan. Bukannya ia tidak peduli, ia hanya malas, itu saja. Bermain kartu terasa lebih membosankan ketimbang belajar Matematika seharian  bagi Yukari. Ia lebih memilih menghabiskan waktu luang di tengah kesibukannya sebagai seorang pelajar pindahan dari Jepang yang baru pindah satu tahun yang lalu dengan membaca novel atau komik. Selama itu ia bersekolah di Indonesia, selama itu pula ia sendiri.
Tiga puluh satu juta seratus empat ribu detik. Sendirian.
Sebenarnya bukan salah teman-temannya ataupun dirinya yang sampai sekarang belum mendapat pasangan yang cocok dengan dirinya. Salahkan ayah dan ibunya yang telah menurunkan gen sifat kaku padanya. Yukari memang sendiri, tetapi bukan berarti teman-temannya membencinya, mereka hanya enggan untuk berlama-lama bersama Yukari. Mereka bilang Yukari terlalu individual, egois. Sampai sekarang pun Yukari masih merasa heran dengan pernyataan itu. Memangnya siapa yang egois? Merekalah yang egois, memaksakan kehendak pada orang lain.
Yukari menghela napas lelah, ia menutup novel yang berada dalam genggamannya, lalu menolehkan kepalanya ke arah jendela di sebelahnya. Menopang dagu sembari menikmati semilir angin yang berhembus nakal menerobos sela-sela jendela yang dibuka. Memejamkan matanya perlahan, lalu membukanya kembali seraya menatap hamparan hijau pegunungan di kejauhan. Yukari memutuskan untuk meraih buku tulis kesayangannya dari dalam tas. Buku yang menjadi curahan ide-ide liar yang bermunculan ataupun luapan rasa hatinya. Ia menorehkan pensilnya membentuk arsiran yang tak jelas rupanya.
Bosan.
Satu kata yang tepat untuk mendefinisikan apa yang dirasakan Yukari saat ini.  Duduk sendiri di bangkumu saat istirahat berlangsung tanpa seorang teman untuk berbicara dan bercanda tentu menjadi hal yang bisa dibilang sangat membosankan.  Yukari mengakui itu. Ia ingin memiliki seorang teman yang akan menjadi pasangan di kelasnya. Seperti teman-temannya yang lain. Yukari juga seorang gadis normal yang butuh tempat untuk bercerita di sekolah. Salahkan sifat kakunya yang selalu menghambat dirinya untuk sekadar tersenyum atau berbicara panjang lebar kepada orang lain yang belum terlalu dekat dengannya.
Yukari memilin rambut hitam sepunggung miliknya perlahan. Tidak ada ide yang melintas saat ini. Mood menulisnya juga sedang turun, tidak ada yang bisa ditulis di buku kesayangannya. Yukari meletakkan kepalanya di atas meja dengan bantalan kedua tangannya yang terlipat. Bibirnya mengerucut sebal. Diperhatikannya keadaan kelas yang—memang selalu—kacau balau ketika memasuki jam istirahat. Bagian barat kelasnya akan berubah menjadi game center karena ulah anak laki-laki, sementara bagian timur akan berubah menjadi pasar yang hiruk pikuk dengan teriakan dan gurauan anak-anak perempuan di kelasnya. Bisakah kau bayangkan itu?. Suatu kelas di siang yang panas dengan bising musik game yang meraung keras ditambah teriakan dan tawa yang mengguncang kaca jendela dengan posisimu di antara keduanya. Keadaan yang benar-benar hebat dan menakjubkan. Cocok untuk orang yang sedang stress berat memikirkan tugas yang kian hari kian menumpuk.
Yukari kembali mendesah. Ia jadi merasa terasing, seperti obat nyamuk yang diletakkan di sudut ruangan pada malam hari lalu terinjak sampai patah pada pagi harinya. Kedua manik kelamnya bergulir tak tentu arah. Saat itulah ia menangkap sesosok gadis yang sama seperti dirinya. Duduk manis di atas bangku di tengah dua kubu yang saling berseteru. Blok barat anak laki-laki dan blok timur anak perempuan, seperti ‘Perang Dunia Kedua’ sedang berlangsung di dalam kelasnya.
Gadis berambut hitam sebahu itu duduk dengan tenang—atau cuek—di bangkunya tanpa terganggu sedikitpun. Matanya terpaku pada gadget putih yang ada di dalam genggaman tangannya. Alisnya tampak berkerut, bertautan. Tampaknya ia serius menghadapi –entah-apa-itu-yang ada pada gadget miliknya. Sesekali ia tersenyum, lalu cemberut, meracau tidak jelas, lalu melompat senang sembari bergumam ‘’Yessss!’’ atau ‘’Hore!!!’’.
Merasa penasaran, akhirnya Yukari memutuskan untuk bangkit dari tempatnya, berjalan mendekati gadis yang diketahui bernama Jehan itu. Yukari menepuk bahunya perlahan. Jehan menekan tombol pause lalu menolehkan kepalanya. Gadis itu tampak menatap aneh sebelum pada akhirnya tersenyum.
‘’Oh hei, kau Yukari, kan?’’ Jehan kembali memusatkan perhatiannya kepada layar benda berbentuk kotak berwarna putih di depannya.
‘’Ada yang bisa kubantu?’’  Ia berkata singkat seraya menatap lurus-lurus permainan yang sedang ia mainkan.
‘’Aku hanya bosan saja, tak masalah kan kalau aku duduk di sebelahmu?’’ Yukari mendudukkan dirinya pada bangku kosong di sebelah Jehan.
Yukari memperhatika Jehan dalam diam. Sejujurnya, ia merasa nyaman dengan anak itu semenjak ia pertama kali berbicara. Tidak berbelit-belit, singkat, dan padat. Jehan senang dengan ketenangan dan kesendirian untuk menghabiskan waktu luangnya, sama seperti dirinya. Merupakan suatu hal yang langka bagi anak-anak sekelas Yukari untuk bisa melihat Jehan ada di antara gerombolan anak-anak perempuan di blok timur. Yang Yukari ingat, terakhir kali Jehan melakukannya, gadis berwajah polo situ menjadi kacang yang terbengkalai di belakang lingkaran anak-anak gadis yang menggerombol. Jehan menguap bosan lalu kembali lagi ke tempat duduknya.
‘’Kau sedang main apa?’’ Yukari memulai pembicaraan.
‘’Sedikit lagi aku menang,’’ Jawaban yang nggak nyambung, itulah hal pertama yang ada di dalam pikiran Yukari.
‘’Oh yeah!’’ Jehan tiba-tiba memekik keras sembari melempar kepalan tangannya ke atas. Tidak jelas adalah hal kedua yang muncul di kepala Yukari.
Iseng-iseng, Yukari mengintip apa yang sedang digeluti Jehan dari balik bahu gadis itu. Seketika itu juga Yukari ikut memekik senang menyemangati Jehan yang sontak membuat kedua kubu yang saling berseteru di dalam kelas itu hening untuk sesaat. Sama sepertiku adalah hal ketiga yang muncul dalam pemikiran Yukari soal Jehan. Yukari tak pernah menyangka ada gadis lain selain dirinya yang menyukai komik atau anime yang berbau adventure atau pertarungan. Hal lain yang membuatnya malas untuk bergabung dengan kubu timur adalah, gadis-gadis di kelasnya lebih menyukai komik perempuan yang biasanya berbau cinta. Sesuatu yang menurut Yukari tidak ada serunya untuk dipikirkan dalam masa remajanya.
‘’Kamu tahu? Aku lebih merasa nyaman berada di dekatmu,’’ Yukari bergumam pelan.
Jehan tidak mengalihkan pandangannya dari permainannya. ‘’Kupikir juga begitu, aku merasa cocok denganmu,’’ Ia menjawab.
Yukari tersenyum kecil. Jehan berbeda dengan gadis sekelasnya, tetapi sam dengan dirinya. Sama-sama dianggap egois, cuek, lebih senang menyendiri, cinta kesunyian—meski kelas ini tak akan pernah sunyi, sama-sama berubah menjadi gila kalau sudah berurusan dengan anime kesukaan, sering tertawa sendiri mendengar cerita masing-masing, melakukan hal konyol, lebih senang diam, wajah flat, dqan entah apalagi yang bisa dipikirkan Yukari saat ini.
Yukari tersenyum manis untuk pertama kalinya.
‘’Kurasa kita cocok, kita sama dan senasib,’’ celetuk Jehan yang memasukkan gadget putih kesayangannya ke dalam saku.
‘’Kurasa kita bisa berteman?’’ Yukari bergumam ragu.
Jehan mengulurkan jari kelingkingnya ke depan wajah Yukari.
‘’Itu ide yang bagus. Kita bisa jadi pasangan teman yan$g asyik,’’ Ia menambahkan.
Senyum Yukari bertambah lebar, dikaitkannya jari kelingkingnya dengan jari kelingking Jehan.
‘’Aku pernah dengar kalau orang itu seperti magnet.Orang dengan kepribadian berbeda akan saling menarik, seperti kutub selatan dan utara magnet. Sedangkan orang dengan kepribadian sama akan susah untuk bersatu, seperti dua kutub sejenis yang didekatkan. Tapi bagiku itu tak berlaku. Karena kalaupun kita adalah kutub magnet yang sejenis, kita akan tetap bersatu, karena kita telah terikat tali persahabatan yang tak akan pernah putus!’’
Yukari dan Jehan tertawa bersama. Dua gadis remaja itu telah menemukan seorang sahabat yang akan menemani dirinya setelah ini. Melewati ‘Perang Dunia Kedua’ yang tengah berlangsung di kelasnya tanpa rasa peduli sedikitpun. Menjalani dunia yang mereka bangun sendiri. Itu sifat mereka, kan?. Setidaknya, begitulah.
Kau tahu? Sahabat itu tidak selalu teman yang telah berteman lama. Sahabat adalah teman yang selalu ada dan membuatmu merasa nyaman ketika berada di dekatnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik dan sarannya ya..,